Sambungkan Indonesia, Triasmitra Siap Bangun SKKL Berkecepatan 25 TB

UNJABISNIS.COM – Pemerintah dalam berbagai kesempatan selalu berbicara tentang transformasi digital. Digadang-gadang sebagai salah satu solusi pemerataan ekonomi dan pendidikan, sektor digital ini termasuk pembangunan infrastruktur yang dikebut menggandeng berbagai pihak dari swasta.

Selain pemeretaan layanan telekomunikasi dengan membangun jaringan lewat satelit dan memperbanyak menara BTS, pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut atau SKKL juga bisa menjadi solusi menyambungkan Indonesia dengan internet berkecepatan tinggi.

Read More

Proyek ini terbaru diumumkan bakal digarap oleh perusahaan jaringan telekomunikasi fiber optik PT Ketrosden Triasmitra Tbk. yang berencana membangun jalur SKKL Rising-8 dari Jakarta ke Singapura. SKKL ini akan memiliki panjang sekitar 1.150 kilometer (km) dengan teknologi sistem repeatered dan diklaim mampu berkapasitas sebesar 25 terabyte per second per fiber pair.

Adapun dana yang dibutuhkan perseroan untuk pembangunan jaringan telekomunikasi kabel laut ini sekitar USD 70 juta hingga USD 100 juta atau berkisar Rp 1 triliun sampai Rp 1,5 triliun lebih.

Direktur Utama Triasmitra Titus Dondi mengungkapkan, saat ini total panjang jaringan telekomunikasi yang sudah dibangun Triasmitra, baik itu kabel laut maupun kabel darat mencapai 10.000 km. Sementara dari jumlah tersebut, 6.500 km adalah jaringan yang dibangun dan dimiliki oleh Triasmitra sendiri.

“Kami akan membangun lagi jaringan kabel laut serat optik dari Jakarta ke Singapura. Sebelumnya kami sudah memiliki jaringan kabel laut yang kami namakan B2JS dari Jakarta ke Singapura yang sudah terisi penuh oleh pelanggan kami,” kata Titus di kantor Triasmitra, Jakarta.

Dirinya menambahkan, proyek SKKL ini sekaligus untuk mengcover kebutuhan digital yang membutuhkan aktivitas cepat, andal, dan kapasitas yang besar dan pelanggan perseroan membutuhkan kembali jaringan kabel laut dari Jakarta ke Singapura dengan kapasitas 25 terabyte per second per fiber pair.

Menurut Titus, saat ini Rising-8 masih proses perizinan di Tim Nasional Penataan Alur Pipa dan/atau Kabel Bawah dan direncanakan siap dipakai (RFS) pada kuartal II 2024.

“Untuk kabel Rising-8 ini, sebelum kami memulai membangun, kami sudah mendapatkan tiga calon pelanggan yang sudah siap berkontribusi menggunakan kabel laut yang kami bangun. Kami optimistis setelah nanti selesai akan banyak calon pelanggan yang menunjukkan minatnya,” sambungnya.

Terkait tantangannya selain perijinan, Titus menambahkan saat ini pembangunan infrastruktur kabel bawah laut masih belum bisa sepenuhnya dilakukan secara masif karena masih ada beberapa kendala. Salah satunya, terbatasnya jumlah kapal penggelar kabel atau cable ship di Indonesia.

“Keterbatasan ini membuat para developer atau kontraktor yang akan melakukan penggelaran kabel bawah laut harus antri untuk memperoleh jadwal kapal penggelar,” tandasnya.



Sumber: www.jawapos.com

Related posts